Kehilangan

 

Kehilangan

Dua Puluh Tujuh Januari itu tak pernah diangka dan terduga. Ternyata begini Ya Alloh , rasanya kehilangan. Pukul 02.00 WIB menjadi awal mula kehilangan. Suara gedoran pintu malam itu tak pernah ku sangka akan selamanya.

       Sore hari tanggal 26 masih kulihat senyumnya, masih menyapaku, bahkan menanyakan anak-anak.  Di benak ku bahkan tak ada terbersit bahwa beliau tak akan ada lagi. Aku pikir dini hari itu bukan awal dari kehilangan. Maaf jika selama ini aku belum bisa membahagiakan, belum bisa menjadi kebanggaan keluarga. Do’a ku akan selalu kupanjatkan Ibu. Ibu menjadi dewasa itu rasanya seperti Ini. Masalah yang tak henti-henti menerpa. Harus terbiasa untuk mengambil keputusan dengan cepat. Bahkan jika dihadapkan dengan keadaan yag sulit. Padah aku masih ingin bergelayut manja dengan mu. 

    Hari ini tepat sebulan engkau meninggalkan kami, malam tu aku pikir engkau hanya sakit dan akan kembali bia bercanda gurau. Padahal diantara perkataan kitu aku ingin bisa berangkat umroh bareng ibu. Namun apa dayaku takdir ternyata berkata lain. Keterbatasana ku belum mampu mewujudkannya. Ibu yang tenang disana. Maafkan anak mu yang belum bisa membahagiakanmu, belum bisa memenuhi keinganmu. 

    Terima kasih ibu atas kasih sayang mu selama ini. Rindu ini kutitipkan lewat lantunan do'a di setiap sujudku. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca dalam hati

Morfologi, bahasa gaul

Hakikat dan Metode Puisi